Perjanjian Pengikat Jual Beli (PPJB) Tanah dan Bangunan

PERJANJIAN PENGIKAT JUAL BELI (PPJB)

TANAH DAN BANGUNAN

Sebelum melakukan perjanjian jual beli atas tanah maupun bangunan, sebagai pembeli pentingnya untuk mengetahui siapa dan atas nama siapa dari kepemilikan tanah tersebut, hal ini bertujuan agar proses jual beli yang akan dilakukan dapat berjalan lancar dan sah berdasarkan hukum, sehingga nantinya tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

  • Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Tanah

Yang dimaksud dengan Perjanjian Pengikat Jual Beli atau PPJB ialah perjanjian yang dibuat oleh calon penjual dan calon pembeli tanah sebagai pengikatan di awal sebelum para pihak membuat Akta Jual Beli yang dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) atau yang biasa disebut sebagai Notaris.

  • Pembuatan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Tanah

Perjanjian Pengikat Jual Beli atau PPJB dapat dibuat di hadapan Notaris/PPAT ataupun dibuat oleh para pihak yang melakukan perjanjian tanpa dituangkan ke dalam bentuk akta atau yang biasa disebut perjanjian dibawah tangan, yang mana selama para pihak menyetuji dan menyepakati bersama, keduanya dianggap sah dan juga mengikat para pihak. (Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)

Dalam Perjanjian Pengikat Jual Beli atau PPJB, hal yang umumnya diatur adalah mengenai besarnya harga yang telah disepakati, cara pembayaran, kapan waktu pembayaran, dan waktu yang disepakati para pihak untuk membuat Akta Jual Beli. Dalam peraturan perundang-undangan, Perjanjian Pengikat Jual Beli tidak diatur secara khusus dan bukanlah suatu keharusan dalam melakukan transaksi jual beli tanah. Seringkali PPJB dibuat karena pembayaran atas pembelian tanah belum dilunasi oleh pembeli. Baru ketika sudah lunas, para pihak akan melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu pembuatan Akta Jual Beli. Sehingga dalam PPJB, belum terjadi peralihan hak atas tanah dari pihak penjual kepada pembeli dan PPJB tidak dapat disamakan dengan Akta Jual Beli.