PERBEDAAN WARMEKING DAN LEGALISASI

PERBEDAAN WARMEKING DAN LEGALISASI 

  • Warmeking

Berdasarkan Pasal 15 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, Notaris, dalam jabatannya, berwenang pula membukukan surat di bawah tangan, dengan mendaftar dalam buku khusus. Buku khususnya disebut dengan Buku Pendaftaran Surat Di Bawah Tangan. Dalam keseharian, kewenangan ini dikenal juga dengan sebutan Pendaftaran surat dibawah tangan dengan kode: “Register” atau Waarmerking atau Waarmerk.

  • Legalisasi

Legalisasi adalah sebuah kewenangan yang dimiliki notaris untuk mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus (legalisasi) yang diatur dalam Pasal 15 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014. Dalam hal ini, para pihak hanya tanda tangan dihadapan notaris dimana notaris tidak memastikan isi mengenai suatu akta apakah benar atau tidak. Meskipun para pihak tanda tangan di hadapan notaris, namun akta yang dibuat merupakan akta di bawah tangan.

Perbedaannya adalah dalam pembuatan warmeking notaris hanya memiliki kewenangan untuk mendaftarkan bahwa akta tersebut benar-benar ada. Sedangkan, dalam legalisasi notaris memiliki kewenangan untuk memastikan dalam penanggalan tanggal akta, kepastian akta tersebut dibuat oleh para pihak dan kepastian bahwa akta tersebut telah ditanda tangani oleh para pihak

Namun dalam persamaannya dapat disimpulkan bahwa proses legalisasi dan waarmerking merupakan akta di bawah tangan (bukan akta otentik) karena para pihak tidak membuatnya di hadapan notaris. Yang merupakan akta autentik hanyalah akta notaris. Ini berkaitan dengan kekuatan pembuktian. Dimana akta otentik memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna di Pengadilan, berbeda dengan akta di bawah tangan.

Sumber : Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014